Setelah sebelumnya saya posting tentang hasil pemeriksaan 1 bidan dan 2 dokter yang berhasil membuat saya galau di post ini , maka sekarang ...

Flashback : Menjelang kelahiran Putriku (part 2)

Setelah sebelumnya saya posting tentang hasil pemeriksaan 1 bidan dan 2 dokter yang berhasil membuat saya galau di post ini, maka sekarang saya posting lanjutannya.

Tanggal 25 Februari 2014,
Setelah diskusi panjang lebar, dengan melibatkan telewicara sahabat Ibu yang juga seorang bidan, akhirnya diputuskan kalau saya akan segera check in ke RSIA. Pagi itu, saya diantar Ibu untuk mengurus semua persyaratan rawat inap dan deposit awal yang menurut saya masih cukup besar. Sementara suami dan adik mengurus keuangan (mencari pinjaman untuk berjaga-jaga kalau biayanya membengkak)

Saya kembali menjalani CTG dengan hasil yang sama, belum ada kontraksi rutin, dan belum ada pembukaan. Dokter akhirnya meminta agar saya diinduksi saja, karena saya tetep keukeuh mau normal.


Induksi pertama dilakukan siangnya, dengan menggunakan pil yang dimasukan via area kewanitaan (miss V). Rasanya risih banget sih. Setelah itu, saya dipindahkan ke Ruang rawat untuk dievaluasi. Saya menempati Ruang Rawat bersama dengan 3 orang wanita yang semuanya baru selesai SC.

Tanggal 26 Februari 2014,
Paginya, saya mendapati flek saat BAK. Siangnya dokter melakukan kunjungan rutin, dan memeriksa apakah sudah ada pembukaan atau belum. Beliau mengatakan kalau sudah ada pembukaan 2 mau ke 3, mungkin malam sudah harus di Ruang Bersalin.

Rasanya saya senang sekali... Akhirnya bisa normal, begitu batin saya.

Hari itu diisi dengan insiden salah seorang teman sekamar saya, yang mau ke kamar mandi, Setiap berjalan dia selalu meringis dan menangis menahan sakit, sampai darah nifasnya berceceran di lantai kamar.

Makin ciut sudah nyali saya kalau harus SC.



Tanggal 27 Februari 2014
Induksi via miss V masih terus dilakukan, dan masih ada flek, tapi tetap belum ada kontraksi rutin. Saya masih berusaha mengajak bicara bayi kami agar ia berhasil melepas lilitan plasentanya.

Saat pemeriksaan, saya masih berada di pembukaan 1,5 ke 2.

Saya mulai bingung, kenapa malah mundur pembukaannya???

Malamnya, induksi diganti dengan yang dimasukkan melalui cairan infus. Katanya agar cepat pembukaannya.

Saya berzikir sepanjang malam mohon kemudahan.


Tanggal 28 Februari 2014
Subuh, saya diberitahu oleh perawat bahwa saya masih stuck di pembukaan 1.

Nah loh, kenapa pembukaannya makin menurun?

Dokter akhirnya memberikan putusan untuk melakukan SC, karena normal sudah tidak dimungkinkan lagi.
Saat itu juga saya menangis, saya ngeri dengan SC, saya tidak mau nanti seperti teman sekamar yang harus merintih tiap berjalan. 

Apalagi biaya SC di RSIA setara dengan 1 motor. 

Kesal, sedih, bingung, semua campur aduk jadi satu.

Setelah mengobrol dengan teman-teman di sosmed, akhirnya saya luluh juga. Tapi bimbang kembali datang, begitu Ibu kebingungan menalangi biaya SC di RSIA, saat itu tercetus ide untuk pindah ke RS tempat saya meminta 2nd opinion. Sebelumnya saya memang sudah bertanya biaya SC dan normal di RS itu, yang biayanya 1/2 dari biaya di RSIA.

Ibu akhirnya segera berangkat ke RS untuk mendaftarkan saya, sementara saya dan suami menunggu surat rujukan dan pengembalian deposit yang tidak terpakai.

Kami meminta surat rujukan jam 7 dan baru selesai jam 11 siang, itupun setelah suami bolak balik ke Ruang Perawat untuk menanyakan suratnya.

Setelah semuanya lengkap, dengan menggunakan motor, kami berdua pergi ke RS tempat Ibu dan adik saya menunggu.

Kisah selanjutnya saya post di postingan berikutnya.


0 komentar: